ISI PERJANJIAN SARAGOSA : Latar Belakang, Sejarah, Tujuan (Lengkap)

ISI PERJANJIAN SARAGOSA : Latar Belakang, Sejarah, Tujuan (Lengkap)

Perjanjian Saragosa – Pertikaian antara negara Spanyol dan Portugal menuai kesepakatan dan menghasilkan sebuah perjanjian. Perjanjian tersebut dinamakan Saragosa atau Zaragoza. Seperti apakah pengertian dari perjanjian ini dan kesepakatan apa yang ditandatangani oleh kedua negara tersebut serta bagaimana latar belakang perjanjian Saragosa?

Pengertian Perjanjian Saragosa

Perjanjian Saragosa
Perjanjian Saragosa

Perjanjian Saragosa atau zaragoza adalah sebuah kesepakatan untuk menentukan hak tanah kolonial. Perjanjian ini diratifikasi pada tahun 1529 antara raja Spanyol dan Kaisar Charles V menghadapi Raja John III dari Portugal.
Hal yang dibahas dari perjanjian ini adalah mengenai bidang-bidang yang mempengaruhi kedua negara di Asia secara umum dan di Maluku, Indonesia.

Maluku menjadi salah satu kekuasaan yang diperebutkan karena dikenal sebagai kepulauan yang menghasilkan rempah-rempah. Perjanjian itu memberikan kedaulatan atas Maluku ke Portugal, termasuk hak navigasi dan perdagangan.

Portugal sendiri akhirnya setuju untuk membayar 350.000 dukat sebagai pembelian untuk hak Spanyol. Secara teori, perjanjian itu menyiratkan bahwa Spanyol melepaskan haknya untuk menduduki Filipina dan negara Asia lainnya dan menurut perjanjian itu semua yang pernah dikuasai Spanyol akan jatuh di bawah pengaruh wilayah Portugis.

Sejarah Awal Perjanjian Saragosa

Perjanjian Saragosa
Perjanjian Saragosa

Latar belakang adanya perjanjian Saragosa adalah perpanjangan dari perjanjian Tordesillas pada tahun 1494 yang hanya menghasilkan kesepakatan sementara. Pertikaian Spanyol dan Portugis memang sudah sejak lama terjadi jauh sebelum memperebutkan kepulauan Maluku di Indonesia.

Konflik yang muncul antara Portugal dan Spanyol sendiri berupa pengambilan wilayah yang tidak sesuai dengan yang ditetapkan oleh Perjanjian Tordesillas. Selama dua dekade pertama abad ke-16, konflik muncul antara kedua negara.

Bagi orang-orang Spanyol, untuk mencapai Maluku, menavigasi ke barat relatif mudah, tetapi kembali ke Meksiko dan itu adalah rute yang sulit dan hampir mustahil untuk diselesaikan. Kemudian masalah lebih lanjut adalah mengenai ekspansi kekaisaran Spanyol dan Portugal yang memberlakukan kesepakatan.

Perjanjian yang ditandatangani 5 April 1529, di kota Spanyol Zaragoza ini menentukan bahwa garis pengaruh Portugis akan ditandai di sebelah timur Maluku, garis yang pada saat itu diyakini melewati dekat Kepulauan Mariana.

Spanyolpun memberikan pembatalan perjanjian jika ada bukti yang ditemukan bahwa Maluku terletak di sebelah timur antimeridian. Sebagai imbalannya, João III akan segera membayar lebih dari 350.000 dukat dan uang muka atas tawaran awalnya sebesar 200.000.

Kemudian pada tanggal 22 April 1529 kedua negara berusaha mengklarifikasi Perjanjian Tordesillas dari tahun 1494 antara Spanyol dan Portugal.

Lagi-lagi perjanjian ini berusaha untuk memperjelas batas-batas sebelumnya yang disepakati hanya antara dua negara, Spanyol dan Portugal, ditambah batas-batas sebelumnya. Semua tanah masih akan dibagi antara kedua negara, dengan Filipina dan Amerika Utara ke Spanyol, dan Maluku ke Portugal.

Latar Belakang Perjanjian Saragosa

Perjanjian Saragosa
Perjanjian Saragosa

Sementara itu latar belakang adanya perjanjian Saragosa kembali ditegaskan ketika antara kedua negara seperti Spanyol dan Maluku sama-sama ingin memonopoli perdagangan rempah-rempah yang ada di pulau Maluku.

Sekitar tahun 1512 bangsa Portugis yang dipimpin oleh Fransisco Serrao kala itu tiba di Ternate, Maluku kemudian disambut hangat oleh Raja Ternate. Ada dua kerajaan di Maluku saat itu yang sedang dalam masa kejayaan yaitu Ternate dan Tidore. Dua kerajaan ini sedang mengalami pertikaian dan Portugis sendiri memilih bekerjasama dengan Kerajaan Ternate.

Sayangnya kehadiran Portugis yang datang ke Maluku mengacaukan wilayah ini dengan melakukan monopoli perdagangan. Bangsa Portugis juga melakukan hal-hal yang tidak menyenangkan terhadap rakyat dengan bertindak kejam.

Portugis benar-benar ingin menguasai wilayah Maluku dengan segala kesewenang-wenangan yang mereka lakukan terhadap rakyat Maluku. Atas perlakukan yang tidak menyenangkan dari Portugis inilah yang kemudian memicu pertikaian di antara Ternate dan Portugis dan kerjasama yang tadinya berjalan baik menjadi semakin memburuk.

Puncaknya, permusuhan itu meledak ketika dengan cara yang licik Portugis membunuh raja Ternate saat itu yakni Sultan Hairun. Pertikaian antara Portugis dan Ternatepun bermulai dan semakin memanas ketika pada tahun 1521 bangsa Spanyol tiba di kerajaan Tidore dengan tujuan yang sama yakni memonopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku.

Maka dengan datangnya Spanyol dan bekerjasama dengan kerajaaan Tidore ini memicu komflik antara Spanyol dengan Portugis untuk menguasai perdagangan monopoli di Maluku. Kemudian pada tanggal 22 April 1529 dibentuklah perjanjian Saragosa untuk mengatur kembali peta wilayah yang dikuasai oleh kedua negara ini.

Isi Perjanjian Saragosa

Perjanjian Saragosa
Perjanjian Saragosa

Perjanjian yang memperbutkan wilayah Maluku dan daerah Asia lainnya ini menghasilkan sebuah kesepakatan yang berisi :

1. Bumi dibagi menjadi dua yaitu yang dipengaruhi oleh bangsa Spanyol dan dipengaruhi oleh bangsa Portugis.
2. Bangsa Spanyol berhak memiliki wilayah kekuasaan meliputi Meksiko hingga ke arah barat kepulauan Filipina sebagaimana yang telah disepakati.
3. Adapun wilayah kekuasaan yang dimiliki oleh bangsa Portugis adalah kawasan Brazil ke arah timur hingga ke kepulauan Maluku.
4. Wilayah kekuasaan Portugis juga meliputi kawasan di sebelah barat dari garis Saragosa
5. Sementara wilayah kekuasaan Spanyol juga meliputi kawasan sebelah selatan timur dari garis Saragosa.

Jadi kesimpulan yang bisa digarisbawahi dari perjanjian Saragosa yang ditandatangani oleh kedua negara ini adalah ada dua garis wilayah yang dibagi dua sama rata.

Profil Tokoh Perjanjian Saragosa

Perjanjian Saragosa
Perjanjian Saragosa

Adapun tokoh yang mewakili perjanjian Saragosa dari bangsa Spanyol adalah Raja Charles V yang lahir pada tanggal 24 Februari 1500 di Ghent, Flanders dan meninggal pada tanggal 21 September 1558.
Semasa hidupnya Kaisar atau Raja Charles V ini selalu berjuang untuk menyatukan kerajaannya melawan kekuatan Protestan yang tumbuh, meningkatkan tekanan Ottoman dan Prancis, dan bahkan permusuhan dengan kekaisaran paus.

Akhirnya dia menyerah, melepaskan klaimnya kepada Belanda dan Spanyol demi putranya Philip II dan gelar kaisar untuk saudaranya Ferdinand I dan pensiun ke sebuah biara. Charles adalah seorang penguasa di abad pertengahan yang pandangan hidupnya diabadikan oleh pendeta Katolik Roma yang kagum dengan Charles V.

Charles V dikenal sebagai orang yang sangat berpengalaman dan memiliki pemikiran yang bijaksana, rasional, dan pragmatis. Charles juga memiliki kejujuran moral dan rasa hormat. Hanya saja ia memiliki sikap yang sangat keras kepal.

Ia memiliki tekad yang teguh dan selalu melakukan penolakan untuk melepaskan bagian apa pun dari warisannya. Ia sangat ambisius dan pragmatis sehingga selalu memiliki keinginan kuat untuk berkuasa dan klaim individu atas kekuasaan inilah yang membentuk inti dari kepribadiannya dan menjelaskan tujuan dan tindakannya menjadi pribadi yang tegas dan rasional.

Sementara Raja John III yang mewakili bangsa Portugis sendiri merupakan yang menjabat sebagai raja Portugal dari tanggal 13 Desember 1521 hingga 11 Juni 1557. Pemerintahannya adalah salah satu supremasi budaya bagi Portugal yang memperkuat prospeknya kekuasaannya di Asia dan menjadikannya sebagai salah satu raja dengan kekuasaan terkuat.

Raja John adalah keturunan Raja Manuel I dan Maria dari Aragon yang lahir pada tanggal 7 Juni 1502. Sejak usia dua belas tahun, ia mulai membantu ayahnya dalam tugas-tugas administrasi negara, dan menginjak usia remaja yaitu sembilan belas tahun, ia dilantik sebagai Raja Portugal.

Pada 19 Desember 1521, John dimahkotai sebagai raja di Gereja São Domingos di Lisbon, memulai masa pemerintahannya selama tiga puluh enam tahun dari tahun 1521 hingga 11 Juni 1557. Selama ini, ia membuktikan dirinya sebagai administrator yang sangat cakap karena telah membantu dalam memperluas wilayah Portugis di wilayah timur dunia.

Faktor yang paling penting adalah bahwa perdagangan rempah selalu menjadi salah satu aspek teratas dari perdagangan Portugal yang membuat ia menjadi raja yang sukses dalam masa pemerintahannya.

Dampak Perjanjian Saragosa

Perjanjian Saragosa
Perjanjian Saragosa

Perjanjian Saragosa adalah sebuah kesepakatan untuk menentukan hak tanah kolonial, tujuan dari adanya perjanjian ini adalah :

1. Kedaulatan Maluku berada sepenuhnya di tangan Portugal, termasuk hak navigasi dan perdagangan. Portugal setuju untuk membayar 350.000 dukat sebagai pembelian untuk hak Spanyol. Secara teori, perjanjian itu menyiratkan bahwa Spanyol melepaskan haknya untuk menduduki Filipina, yang menurut perjanjian itu akan jatuh di bawah pengaruh wilayah Portugis.

2. Portugis menduduki wilayah di Brasil yang berada di luar garis Tordesillas dan wilayah yang dikuasai Portugal ini akan dibeikan kepada Spanyol.

3. Spanyol mendirikan pemukiman di Filipina pada 1542 dan akhirnya pada 1565, dengan ekspedisi Miguel Lopez de Legazpi, Spanyol juga mendirikan benteng pertahanan di Cebu dan Manila.

4. Spanyol kemudian mendirikan sebuah koloni di Marianas pada tahun 1668 di bawah kekuasaan Diego Luís de San Vitores.

Tujuan Perjanjian Saragosa

Perjanjian Saragosa
Perjanjian Saragosa

Perjanjian Zaragosa (Zaragoza, Saragossa) berupaya untuk mengklarifikasi Perjanjian Tordesillas dari tahun 1494 antara Spanyol dan Portugal. Lagi-lagi perjanjian ini berusaha untuk memperjelas batas-batas sebelumnya yang disepakati hanya antara dua negara, Spanyol dan Portugal, ditambah batas-batas sebelumnya oleh kepausan.

Semua tanah masih akan dibagi antara kedua negara, dengan Filipina dan Amerika Utara ke Spanyol, dan Maluku ke Portugal. Selama tiga puluh lima tahun sejak Perjanjian Tordesillas telah ditandatangani, jelas bahwa perjanjian asli tidak secara akurat menjelaskan tanah yang ditemukan di sisi lain dunia sehingga penemuan tanah oleh Portugal dan Spanyol sama-sama diklaim miliknya.

Di akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16, poin mengenai penemuan tanah itupun diperdebatkan. Perjanjian Tordesillas telah memotong dunia menjadi dua; ada meridian ditempatkan di Samudra Atlantik yang memberikan Spanyol tanah di sebelah barat dan Portugal tanah di sebelah timur.

Namun sayang, untuk wilayah Samudra Pasifik yang saat perjanjian Tordesillas belum ditemukan menjadi perebutan wilayah oleh penjelajah Eropa. Pada tahun 1511, sebuah ekspedisi dilakukan oleh penjelajah Portugis bernama Alfonso de Albuquerque yang telah menaklukkan Malaka. Kemudian pada 1512, muridnya, Antonio de Abreu, menemukan dan menaklukkan Kepulauan Bandu di Malaysia, yang dikenal sebagai Kepulauan Rempah.

Pada 1522, Portugis membuat perjanjian dengan penduduk setempat untuk membangun benteng dan pabrik batu, Forte de Sao Joao Baptista de Ternate, di Indonesia timur atau bagian dari Kesultanan Ternate.
5 tahun kemudian atau tahun 1517, Ferdinand Magellan yang berasal membangun rute rempah-rempah yang dijanjikan Columbus, tetapi ia tidak ingin mengganggu rute Portugis.

Saat pembangunan wilayah tersebut memang tidak terjadi masalah apapun antara Spanyol dan Portugis. Namun masalah muncul, khususnya setelah Charles V mengirim ekspedisi kedua pada tahun 1525 di bawah kepemimpinan Garcia Jofre de Loaisa untuk membangun ekspansi di wilayah yang kaya akan rempah-rempah.

Saat itu Kaisar Charles V memiliki asumsi bahwa pulau-pulau itu berada di wilayah Spanyol menurut Perjanjian Tordesillas. Ia memerintahkan ekspedisi menggunakan tujuh kapal danitu adalah ekspedisi angkatan laut kedua untuk melintasi Samudra Pasifik.

Mereka pun berlabuh di Tidore dan membangun benteng Spanyol. Pertempuran yang tak terhindarkan pun terjadi antara Spanyol dan Portugis untuk mempertahankan wilayah mereka masing-masing. Maka dari itu adanya perjanjian Saragosa antara Spanyol dan Portugis ini memiliki tujuan seperti :

1. Bermaksud untuk mendamaikan pertikaian yang terjadi antara adalah Spanyol dan Portugis.
2. Dengan adanya perjanjian ini diharapkan agar Portugis dan Spanyol tidak melakukan pertikaian dingin dalam memperebutkan wilayah yang dijadikan koloni dan monopoli.
3. Sebagai upaya untuk membagi rata kekuasaan milik Portugis dan milik Spanyol agar tidak kembali mengalami pertikaian.
4. Membagi wilayah menjadi dua bagian untuk Spanyol dan Portugis dan menegaskan kembali wilayah kekuasaan dua negara ini.

Penyelesaian Perjanjian Saragosa

Perjanjian Saragosa
Perjanjian Saragosa

Perjanjian Saragosa memang merupakan penegasan kembali dari perjanjian Tordesillas antara Spanyol dan Portugis sebelumnya dan sudah sering disebutkan bahkan jauh sebelum kedatangan kapal kedua negara ini dan mendirikan benteng pertahanan di Ternate atau Tidore.

Spanyol dan Portugal telah memutuskan, pada tahun 1524, untuk menunjuk Junta de Badajoz-Elvas, dengan tiga astronom atau pembuat peta, tiga pilot, dan tiga matematikawan. Mereka dituduh menemukan lokasi tepat meridian yang ditetapkan dalam Perjanjian Tordesillas mengenai kekuasaan wilayah masing-masing.

Setelah bertemu beberapa kali, tidak ada kesepakatan yang bisa dicapai di antara kedua negara ini. Keduanya memiliki peta sendiri yang menunjukkan Maluku, pulau-pulau di sebelah barat Papua termasuk Ternate, Tidore, Makian, Moti, dan Bakan, berada di pihak mereka berdua.

Satu tahun kemudian tepatnya pada tanggal 10 Februari 1525, permasalahan kedua negara ini mulai menemukan solusi. Catherine dari Austria yang merupakan saudara perempuan Charles V, menikahi John III dari Portugal dan setahun setelah itu yakni pada tanggal 11 Maret 1526, Charles V sendiri menikahi saudara perempuan Raja John, Isabella dari Portugal.

Butuh beberapa tahun untuk menyelesaikan pengaturan mengenai perbatasan wilayah di kedua negara ini tetapi pada tanggal 22 April 1529 dan Perjanjian Saragosapun selesai. Portugis membangun perbatasan timur ke zona domain atau 17 derajat ke timur di pulau-pulau Maluku atau dekat Marianas yang dikuasai oleh Spanyol.

Sebagai gantinya Portugis memberikan 350.000 dukat kepada Spanyol dengan catatan bahwa semua hak, tindakan, kepemilikan, dan semua hak untuk menavigasi, kontrak dan perdagangan di adalah milik Portugis.
Namun perjanjian itu juga melarang Portugis untuk masih memperluas benteng di Ternate. Portugis dilarang membangun perluasan wilayah dan hanya berhak untuk memperbaikinya saja. Perjanjian inipun kemudian benar-benar disepakati dan tidak lagi dilanggar oleh salah satu pihak baik itu Spanyol maupun Portugis.

Perjanjian Saragosa menjadi saksi bahwa pada zaman dahulu bangsa Eropa telah melakukan banyak ekspansi dan monopoli perdagangan yang dilakukan bukan hanya di Indonesia saja, tapi seluruh wilayah Asia khususnya. Seperti itulah latar belakang dari perjanjian Saragosa dan semoga bisa menambah pengetahuan mengenai sejarah di masa lampau.

Boleh copy paste, tapi jangan lupa cantumkan sumber. Terimakasih

Perjanjian Saragosa

Leave a Comment