FILSAFAT PANCASILA : Pengertian, Sistem, Fungsi, Kajian (Lengkap)

FILSAFAT PANCASILA : Pengertian, Sistem, Fungsi, Kajian (Lengkap)

Filsafat Pancasila – Filsafat sangat berarti bagi kehidupan pribadi manusia dan banyak orang. Dilsafat sebagai ilmu telah lama dikembangkan oleh para pemikir di berbagai belahan dunia.

Apabila seseorang memahami filsafat sesuai dengan tujuan dan cita-cita masing-masing individu, maka hal itu dapat membantu kematangan dan kebijaksanaan seseorang. Terlebih untuk seorang mahasiswa, salah satu filsafat yang cocok untuk dipahami adalah filsafat pancasila.

Pancasila digunakan sebagai falsafah dan ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebagai salah satu pedoman bernegara, sudah seharusnya pada masyarakarat dan seseorang yang mengaku sebagai warga negara Indonesia memahami tentang pengertian filsafat pancasila. Para filsuf telah menyumbangkan pemikiran dan karya mereka untuk kehidupan, termasuk juga untuk sistem pemerintahan.

Pengertian Filsafat Pancasila Secara Umum

Filsafat Pancasila
Filsafat Pancasila

Terdapat berbagai jenis filsafat, salah satunya juga terdapat filsafat pancasila. Beberapa ahli mengatakan bahwa filsafat ini merupakan bagian dari filsafat timur yang berdasar dari ketuhanan dan keagamaan (theisme-religius).

Sebaliknya, sebagian orang di negara barat percaya pada Tuhan tetapi tidak menganut agama tertentu. Filsafat pancasila hadir sebagai jati diri luhur yang membedakan bangsa Indonesia dengan negara lainnya.

Filsafat pancasila adalah hasil pemikiran yang paling mendalam dan dianggap telah dipercaya serta diyakni sebagai suatu kesatuan dari norma dan nilai yang paling dianggap benar, adil, bijaksana, paling baik dan paling sesuai dengan kaidah didirikannya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pancasila sebagai falsafah dapat diartikan sebagai pandangan hidup dalam kegiatan praktis.

Dalam pengertian lain, filsafat pancaila merupakan penggunaan nilai-nilai pancasila sebagai pedoman atau pandangan hidup bernegara, pada prinsipnya pancasila sebagai filsafat yakni perluasan manfaat dari yang bermula sebagai dasar dan ideologi berkembang menjadi produk filsafat (falsafah).

Menyusul hal tersebut, filsafat pancasila berarti mempunyai fungsi dan peranan untuk manusia sebagai pedoman dan pegangan dalam sikap dan tingkah laku sebagai bentuk perbuatan dalam kehidupan sehari-hari baik dalam masyarakat, berbangsa dan bernegara untuk bangsa Indonesia.

Pada hakikatnya pancasila memiliki sistem nilai yang di dapat dari pengertian nilai-nilai dasar luhur kebudayaan bangsa Indonesia. Dari unsur-unsur kebudayaan tersebut berakar dan mengalir sehingga membuat secara keseluruhan menjadi terpadu menjadi kebudayaan bangsa Indonesia.

Hal inilah yang menjadi hasil dari perenungan jiwa mendalam yang dilakukan oleh para tokoh pendiri bangsa (Founding Father) bangsa Indonesia dan merumuskannya ke dalam suatu sistem dasar negara, dari situlah muncul Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pengertian Filsafat Pancasila Menurut Tokoh atau Ahli

Filsafat Pancasila
Filsafat Pancasila

Seperti yang dijelaskan di atas bahwa pengertian filsafat pancasila secara umum adalah filsafat pancasila sebagai hasil dari pemikiran yang paling mendalam yang dianggap, paling dipercaya dan sangat diyakini sebagai suatu norma dan nilai yang dianggap paling benar, adil, bijaksana paling baik dan paling sesuai untuk bangsa Indonesia.

Selain secara pengertian secara umum, untuk mengetahui pengertian filsafat secara keseluruhan kita perlu memahami dan mengerti pengertian filsafat menrurut tokoh atau para ahli dari dalam negeri ini. Karena pada dasarnya, pengertian mengenai filsafat pancasila seharusnya tidak langsung ditelan secara mentah-mentah, perlu analisi dan pemahaman yang cermat.

1. Ir. Soekarno.

Bagi sosok Soekarno, filsafat pancasila merupakan filsafat asli dari Indonesia yang diambil dari budaya dan tradisi Indonesia dan akulturasi budaya India (Hindu-Budha), Barat (Kristen) dan Arab (Islam).

2. Soeharto

Filsafat pancasila mulai mengalami perubahan, melalui para filsuf yang lahir dari Depdikbud, semua elemen Barat disingkirkan dan diganti dengan interpretasi dalam budaya Indonesia (Pancasila truly Indonesia).

3. Ruslan Abdulgani

Ahli ini memiliki pendapat bahwa Pancasila itu adalah filsafat dari negara yang terlahir sebagai ideologi kolektif (cita-cita bersama) seluruh rakyat dan bangsa Indonesia.

4. Notonagoro

Notonagoro mengatakan bahwa filsafat pancasila memberikan pengetahuan dan pengertian ilmiah mengenai hakikat pancasila. Menurutnya, secara ontologi kajian pancasila sebagai filsafat dimaksudkan untuk mengetahui hakikat dasar sila-sila yang terkandung di dalam pancasila.

Kajian Ontologis Filsafat Pancasila

Filsafat Pancasila
Filsafat Pancasila

Seperti yang dikemukakan oleh Notonagoro bahwa filsafat pancasila secara kajian ontologis dimaksudkan sebagai cara untuk mengetahui hakikat dasar sila-sila yang terkandung di dalam pancasila. Pada sisi lain, Notonagoro juga menyebut bahwa hakekat dasr ontologis pancasila adalah manusia, hal itu dikarenakan manusia merupakan subjek hukum pokok dari sila-sila pancasila.

Kaelan menjelaskan lebih lanjut bahwa berketuhanan Yang Maha Esa, berkemanusiaan yang adil dan beradab, berkesatuan Indonesia, berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmad kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia pada hakekatnya adalah manusia.

Oleh karena itu secara Ontologis hakekat dasar dari keberadaan sila-sila pancasila adalah manusia. Notonagoto lebih lanjut menyebutkan bahwa manusia sebagai pendukung pokok sila-sila pancasila memiliki hak-hak muthlak.

Hal-hak muthlak tersebut terdiri atas susunan kodrat, jiwa dan raga, jasmani dan rohani serta sebagai makhluk individu dan sosial serta kedudukan kodrat sebagai makhluk pribadi dan makhluk Tuhan Yang Maha Esa.

Hal ini berarti bahwa dalam setiap penyelenggaraan negara harus dijabarkan dan memiliki sumber pada nilai pancasila, seperti bentuk negara, sifat negara, tujuan negara, tugas negara dan kewajiban negara, warga negara, sistem hukum negara, moral negara serta aspek penyelenggara lainnya.

Kajian Epistimologis Filsafat Pancasila

Filsafat Pancasila
Filsafat Pancasila

Kajian Epistimologis filsafat pancasila bertujuan sebagai upaya untuk mencari hakekat pancasila yang memiliki fungsi sebagai suatu sistem pengetahuan. Epistimologis merupakan bidang filsafat yang membahas mengenai hakekat ilmu pengetahuan, oleh karena itulah mengapa hal ini dapat dilakukan. Selain itu, kajian epistimologis tidak dapat dipisahkan dengan dasar ontologisnya.

Pada dasarnya dalam hal ini pancasila sebagai objek kajian pengetahuan yang pada hakekatnya meliputi masalah sumber pengetahuan pancasila dan susunan pengetahuan pancasila dimana hal itu terdapat pada nilai-nilai yang ada pada bangsa Indonesia it sendiri.

Selanjutnya susunan pancasila sebagai suatu sistem pengetahuan maka pancasila memiliki susunan yang bersifat formal logis, baik dalam arti susunan sila-sila pancasila maupun isi arti dari sila-sila tersebut.

Sebagai suatu paham epistimologi, maka pancasila mendasarkan pandangannya bahwa ilmu pengetahuan tidak bebas nilai karena pancasil harus diletakkan pada kerangka moralitas kodrat manusia, berikut susunan sila tersebut.

  1. Sila pertama pancasila mendasari dan menjiwai empat sila lain.
  2. Sila kedua berdasar pada sila pertama serta mendasari dan menjiwai sila ketiga, empat dan lima.
  3. Sila ketiga didasari dan dijiwai sila pertama dan kedua serta mendasari dan menjiwai sila keempat dan lima.
  4. Sila keempat berdasar dan dijiwai sila pertama, kedua, ketiga serta mendasari dan menjiwai sila kelima.
  5. Sila kelima, berdasar dan dijiwai sila pertama, kedua, ketiga dan keempat.

Dasar-dasar rasional logis pancasila juga menyangkut kualitas maupun kuantitas, selain itu juga menyangkut isi arti sila-sila pancasila tersebut. Sila ketuhanan Yang Maha Esa memberikan landasa kebenaran pengetahuan manusia yang bersumber pada intuisi.

Manusia pada hakekatnya memiliki kedudukan dan kodratnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, maka sesuai dengan sila pertama, epistimologi pancasila juga mengakui kebenaran wahyu yang mutlak.

Kebenaran dan pengetahuan manusia kemudian dijadikan sebuah sintesa yang harmonis antara potensi-potensi kejiwaan manusia yakni, akal,rasa dan kehendak untuk mendapatkan kebenaran. Selain itu, dalam sila ketiga keempat dan kelima, epistimologi pancasila mengakui keberadan kebenaran konsensus terutama pada hakekat sifat kodrat sebagai makhluk individu dan sosial.

Kajian Aksiologis Filsafat Pancasila

Filsafat Pancasila
Filsafat Pancasila

Kajian aksiologis filsafat pancasila bertujuan untuk membasah tentang nilai praktis atau manfaat suatu pengetahuan mengenai pancasila, hal ini dikarenakan sila-sila pancasila mermiliki satu kesatuan dasar aksiologis, sehingga nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila pada hakekatnya juga merupakan satu kesatuan.

Aksiologis pancasila memiliki arti bahwa seseorang membahas tentang filsafat nilai pancasila. Seperti sifat dari suatu benda yang menyebabkan menarik minat seseorang atau kelompok. Artinya ada sifat dan kualitas yang melekat pada sesuatu tersebut, seperti indah dan baik, sifat-sifat tersebut pastinya terkandung dalam pancasila sebagai filsafat atau falsafah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Notonagoro merinci tentang nilai yang ada bersifat material dan non material, dalam hubungan ini manusia memiliki orientasi nilai berbeda yang bergantung pada pandangan hidup dan filsafat hidup masing-masing.

Terdapat kelompok yang mendasarkan pada orientasi nilai material tetapi juga ada yang mendasarkan pada nilai nonmaterial. Nilai material relatif lebih mudah diukur menggunakan panca indera atau alat pengukur.

Selain itu, Notonagoro juga beranggapan bahwa nilai-nilai pancasila itu termasuk nilai kerohanian, nilai ini mengakui nilai material dan nilai vital. Dengan demikian pancasila yang tergolong nilai kerohanian juga mengandung nilai-nilai lain, seperyi nilai kerohanian dan harmonis seperti nilai material, nilai vital nilai kebaikan, kebenaran, keindahan dan estetis.

Terdapat berbagai macam teori mengenai nilai dan sangat bergantung pada titik tolak serta sudut pandang masing-masing dalam menentukan penilaian. Kalangan materialis memandang bahwa hakekat nilai yang tertinggi adalah nilai material, sementara kalangan hedonis berpandangan nilai tertinggi adalah kenikmatan.

Jadi, secara aksiologis, bangsa Indonesia merupakan pendukung dari nilai-nilai pancasila sebagai bangsa yang berkeuhanan, berkemanusiaan, yang berpersatuan, yang berkerakyatan dan yang berkeadilan sosial. Sebagai pendukung nilai, bangsa Indonesia menghargai, mengakui, dan menerima pancasila sebagai sesuatu yang bernilai.

Pengakuan, penghargaan, dan penerimaan pancasila sebagai suatu yang bernilai itu tampak pada sikap, tingkah laku, dan perbuatan bangsa Indonesia. Apabila hal tersebut telah tampak pada bangsa Indonesia, maka bangsa inilah yang merupakan pengemban dalam sikap, tingkah laku dan perbuatan.

Sistem Filsafat Pancasila

Filsafat Pancasila
Filsafat Pancasila

Susunan pancasila yang hierarkhis berbentu piramida merupakan gambaran hubungan hierarkhi sila-sila dari pancasila sesuai dengan urutan dan juga dalam hal sifat masing-masing yang dimiliki sila-sila tersebut. Pancasila merupakan suatu kesatuan keseluruhan yang bulat dan muthlak, apabila urutan itu dipandang tidak demikian maka mereka akan terpecah.

Pancasila dengan lima silanya pada hakikatnya merupakan sistem filsafat. Maksud dari sistem filsafat adalah suatu kesatuan bagian-bagian yang saling berhubungan, saling memiliki kerja sama untuk mendapatkan atau meraih tujuan tertentu dan secara keseluruhan merupakan suatu kesatuan yang utuh. Sila-sila pancasila yang merupakan hakikat dasar adalah suatu kesatuan yang organis.

Antara sila satu dengan yang lainnya saling berkaitan, saling berhubungan dan bahkan saling mengkualifikasi. Dalam penjelasan yang lebih sederhana dapat dikatakan bahwa kelima pancasila sekaligus tersebut saling mempunyai berhubungan, saling melengkapi dan saling membuat masing-masing sila menjadi lebih mulia maknanya.

Dengan demikian maka pancasila pada dasarnya merupakan sistem filsafat, dalam artian bahwa bagian-bagian pancasila yang paling menonjol adalah sila-silanya saling berkaitan erat sehingga membentuk suatu struktur menyeluruh, dari struktur yang terbentuk itu munculah nilai-nilai kebijaksanaan dan cinta.

Mengapa Harus Filsafat Pancasila

Filsafat Pancasila
Filsafat Pancasila

Mengapa negara Indonesia harus memilih filsafat pancasila sebagai dasar atau pedoman atau pandangan hidup berbangsa dan bernegara (ideologi). Awalnya, ideologi diartikan sebagai kajian terhadap ide.

Pada sisi lain ideologi pada masa-masa awal merupakan teori ide-ide untuk pembangunan lembaga-lembaga masyarakat. Akan tetapi, salah satu penguasa kala itu, Napoleon Bonaparte menyebut orang-orang yang aktif didalamnya (ideologis) dianggap sebagai sekelompok pelamun yang berpikir tidak praktis.

Seiring perkembangan ideologi yang sebelumnya berkonotasi negatif, kini mengalami perubahan makna menjadi lebih positif. Secara sederhana, ideologi disebut sebagai nilai-nilai atau cita-cita luhur yang dipercayai oleh seseorang, kelompok, masyarakat, bangsa dan negara dalam kesehariannya. Sebagai ideologi, pancasila merupakan nilai, norma, cita, acuan dalam mencapai tujuan bangsa.

Pancasila merupakan ideologi terbuka yang mampu berselaras dengan dinamika kehidupan masyarakat Indonesia. Pancasila sebagai ideologi yang dipilih bukan karena yang paling benar, karena kebenaran mutlak sebuah ideologi bukanlah diskusi di ranah pendidikan.

Namun, yang harus diperhatikan adalah bagaimana pancasila adalah model ideologi satu-satunya yang ada di dunia yang hadir dalam batin dan budaya bangsa Indonesia sejak sebelum merdeka hingga hari ini.

Filsafat Pancasila dalam Konteks Kewarganegaraan

Filsafat Pancasila
Filsafat Pancasila

Pancasila merupakan dasar filsafat negara yang juga merupakan filsafat hidup bangsa Indonesia, pada hakekatnya merupakan nilai-nilai bersifat sistematis, fundamental dan tersebar secara keseluruhan. Maka dari itu, sila yang terdapat pada pancasila juga merupakan suatu nilai yang bersifat utuh, bulat, hierakhis dan sistematis.

Lebih lanjut, maka dalam pengertian ini sila-sila dalam pancasila merupakan suatu sistem filsafat yang memiliki konsekuensi tidak terpisah dan tidak memiliki makna sendiri-sendiri, melainkan memiliki hubungan atau esensi serta makna yang utuh.

Filsafat pancasila untuk bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki makna bahwa setiap aspek kehidupan berbangsa, bermasyarakat dan bernegara harus berdasar pada nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan.

Filsafat kenegaraan bertolak dari pandangan negara adalah suatu persekutuan hidup individu atau kelompok, yang merupakan masyarakat hukum.

Negara yang didikan oleh sekelompok atau organisasi manusia berdasar pada kondrat bahwa manusia sebagai warga negara, sebagai persekutuan hidup yang berarti memiliki kedudukan kodrat sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa (sila pertama). Negara yang merupakan persekutuan hidup dan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.

Pada hakekatnya hal itu bertujuan untuk mewujudkan harkat dan martabat manusia sebagai makhluk yang berbudaya dan beradab (sila kedua). Sementara itu, negara juga merupakan suatu organisasi hidup manusia yang harus membentuk ikatan suatu bangsa (sila ketiga).

Terwujudnya persatuan dan kesatuan melahirkan suatu bangsa yang hidup di dalam suatu wilayah tertentu di negara, sehingga diperlukan sifar demokatis yang meliputi hak serta kekuasaan bagi rakyat yang harus dijamin, baik secara indvidu maupun secara bersama (sila keempat).

Menyusul hal itu, maka dalam hidup bernegara harus mewujudkan jaminan perlindungan bagi seluruh warga, untuk mewujudkan tujuan seluruh masyarakat diperlukan prinsip keadilan yang timbul dalam kehidupan bersama (sila kelima).

Secara keseluruhan filsafat Pancasila untuk kewarganegaraan adalah pemahaman seorang manusia atau warga negara Indonesia mengenai dasar negara, pedoman, dan tata cara berkehidupan di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Boleh copy paste, tapi jangan lupa cantumkan sumber. Terimakasih

Filsafat Pancasila

Leave a Comment